Struktur Organisasi LAPAKKSS 2026-2030
Resmi • 2026–2030 Struktur Organisasi LAPAKKSS 2026–2030 Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulaw...
Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan
LAPAKBUDAYA hadir sebagai ruang terbuka — tempat seniman bertemu, gagasan bertukar, dan kekayaan budaya Sulawesi Selatan dipanggungkan untuk dunia.
"Budaya adalah milik kita semua — bukan hanya museum, bukan hanya akademisi."
LAPAKBUDAYA hadir untuk menghilangkan jarak antara seni budaya dan masyarakat. Di sini, kesenian Sulawesi Selatan bukan perkara yang jauh dan formal — ini milik semua orang: anak muda, seniman kampung, maestro panggung, hingga penonton awam.
Sebagai Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, kami menjaga warisan budaya empat suku besar — Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar — sambil menghadirkannya dengan cara yang relevan untuk generasi sekarang.
Sulawesi Selatan adalah rumah bagi empat suku besar dengan keunikan budaya masing-masing — dari pegunungan Toraja hingga pesisir Mandar.
Masyarakat Toraja dikenal dengan tradisi yang memadukan kepercayaan kuno Aluk To Dolo dengan kehidupan modern yang kaya makna.
Rumah adat dengan atap melengkung seperti tanduk kerbau — simbol status dan kosmologi Toraja.
Tarian 9 penari perempuan dengan 12 gerakan melambangkan tahap kehidupan manusia.
Upacara pemakaman agung berlangsung 3–10 hari, diiringi doa dan pertunjukan seni sakral.
Seni ukir kayu penuh simbol yang menghias tongkonan — bahasa visual leluhur Toraja.
Suku Bugis dikenal sebagai pelaut ulung yang menjelajahi samudra sekaligus seniman tenun yang melahirkan karya tekstil memukau.
Kapal layar legendaris karya suku Konjo — dibangun tanpa gambar teknis sejak abad ke-16.
Kain sutra tenun tangan dengan motif bunga dan geometris — simbol identitas dan status sosial.
Epos sastra Bugis kuno yang setara dengan Iliad — salah satu karya sastra terpanjang di dunia.
Emas dan perak diolah jadi anting, kalung, dan gelang dengan teknik anyaman halus.
Kebudayaan Makassar memancarkan keanggunan — tercermin dalam gerak tari yang lembut namun penuh makna, dan ornamen yang sarat simbol.
Tarian keraton dari Kesultanan Gowa dengan 12 bagian — melambangkan kesopanan dan penghormatan.
Pusat kekuasaan maritim Nusantara, kini tersimpan dalam Museum La Galigo.
Musik tradisional yang memadukan kecapi dan suling bambu — melodi yang menenangkan jiwa.
Kain songket dan kerajinan tangan khas Makassar tersedia di Jalan Somba Opu yang ikonik.
Suku Mandar dari pesisir barat Sulawesi Selatan dikenal dengan tradisi bahari yang kuat, termasuk pembuatan Sandeq — perahu tercepat Nusantara.
Perahu cadik tradisional yang ringan dan cepat — ikon budaya bahari Mandar.
Kain tenun sutra dengan motif khas yang berbeda dari Bugis — masih dirajut tangan hingga kini.
Tradisi sastra lisan berpantun sebagai media ungkap rasa dan kritik sosial Mandar.
Ritual laut, mantra pelayaran, dan kearifan lingkungan dari komunitas pesisir Mandar.
Dari panggung ke ruang kelas — LAPAKBUDAYA menggerakkan ekosistem seni budaya yang hidup dan berkelanjutan.
Dialog tahunan mempertemukan seniman senior dan junior — berbagi pengalaman, menjaga mata rantai tradisi.
TahunanProgram tinggal bersama seniman dari berbagai penjuru untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.
Per KuartalPerayaan besar kesenian daerah: tari, musik, kerajinan, dan arak-arakan budaya untuk seluruh masyarakat.
Dua TahunanKelas tenun, ukir, tari tradisional untuk pelajar dan umum — generasi muda mengenal warisan budayanya.
BulananRekam, arsipkan, dan digitalisasi kekayaan seni budaya Sulawesi Selatan agar tidak hilang ditelan waktu.
BerkelanjutanBermitra dengan Universitas Hasanuddin untuk riset, publikasi, dan pengembangan kurikulum budaya lokal.
KemitraanCerita, kajian, dan kabar terkini seputar seni budaya Sulawesi Selatan.
Resmi • 2026–2030 Struktur Organisasi LAPAKKSS 2026–2030 Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulaw...